Karjiyem Harus Merawat Anaknya Dengan Penghasilan 10ribu Tanpa Bantuan Pemerintah



Karjiyem(63) di usia senja saat ini harus merawat anaknya yang mengalami lumpuh akibat polio yang di deritanya sejak lahir.


Karjiyem harus merawat Yatmi(31) yang setiap hari hanya terduduk di kursi roda. Posisinya pun tidak duduk dengan sempurna karena kaki Yatmi sama sekali tidak bisa di tekuk.


Jika makan, Yatmi harus di bantu orang lain, untuk buang air besar dan kecil di bantu oleh ibunya, Karjiyem. Dan saat tidak ada orang, Yatmi buang airnya hanya ngebrok di tempatnya saat itu.


Karjiyem harus mencari nafkah dengan cara berjualan di pasar karena suaminya sudah meninggal sejak puluhan tahun yang lalu, tepatnya saat Yatmi berusia 9tahun.


Untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan anaknya, Karjiyem setiap hari harus berangkat pukul 01:00WIB ke pasar Playen untuk berjualan sayuran. Jarak dari rumahnya ke pasar playen sekitar 35km.


Di usia yang sudah renta, Karjiyem sudah tidak mampu membawa banyak dagangan. Ia hanya membawa dedaunan yang laku di jual seperti daun singkong dan sawi hijau. Sesekali ia membawa buah nangka muda yang sudah di potong kecil-kecil.


Tak banyak uang yang ia dapat dari berdagang sayuran. Ia membeli sayuran dari para tetangganya sebesar Rp60.000 dan jika di jual akan mendapat uang Rp100.000, namun untung Rp40.000 tersebut akan di potong Rp30.000 untuk ongkos.


Karjiyem yang tinggal di padukuhan Ngondel Kulon Rt.04 Kelurahan Krambil Sawit, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul. Selalu berangkat ke pasar Playen rombongan bersama terangganya dengan patungan per orang Rp30.000.


Meski begitu, Profesi yang telah ia jalani puluhan tahun ini harus tetap di jalankan karena tidak ada lagi yang bisa ia tekuni untuk menyambung hidupnya.


Sebuah beban tersendiri ketika Karjiyem harus meninggalkan Yatmi ke pasar. Sebenarnya anak kedua Karjiyem tinggal di dekatnya yang sering membantu merawat Yatmi, namun saat ini sedang mempunyai anak balita dan terkadang harus membantu suaminya mencari nafkah.


Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan oleh Karjiyem agar anaknya bisa sembuh dan beraktivitas normal seperti yang lainnya. Mulai dari rumah sakit, tabib, kyai hingga orang pintar telah ia datangi untuk berobat, namun tak ada yang manjur membuat anaknya normal.


Kini di usia senja ia pasrah dengan kondisi anaknya tersebut. Terlebih bantuan pemerintah tak pernah ada yang sampai ke tangannya kecuali kursi roda dari Dinas Sosial. Wanita ini pun tak banyak berharap kepada pemerintah agar memberi perhatikan lebih kepada puterinya tersebut.


"Pasrah saja. Terserah pemerintah saja, saya coba menanggungnya sekuat tenaga," jawabnya singkat.


Tempat tinggal Karjiyem dan Yatmi adalah bangunan semi permanen berukuran 9x12 meter persegi. Dan beberapa bulan yang lalu nyaris roboh karena lapuk dimakan usia. Dan warga sepakat merobohkannya karena dinilai membahayakan Karjiyem dan anaknya. Namun keduanya mengalami kesulitan untuk membangun kembali rumah yang telah dirobohkan tersebut.


"Ndak ada duit. Mau mbangun gimana," keluh Karjiyem seperti di kutip dari kumparan.


Ketua RT 04 Padukuhan Ngendol Kulon Kalurahan Krambil Sawit, Murdiyanto (43) menuturkan, warganya tersebut sama sekali tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Dia berharap agar pemerintah lebih perhatian terhadap masyarakat yang bernasib sama dengan Yatmi dan keluarganya.


"Ya mohon dibantu dan diberi perhatian lebih. Seperti Mbah Karjiyem ini tidak ada yang membantu lagi," harap Murdiyanto.(kumparan)