Iklan

Sekolah Online di Gunungkidul Belum Efektif

13 Juli 2020, 12:07 WIB Last Updated 2020-07-13T05:07:16Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
Ilustrasi : medcom.id

Banyak sekolah di Kabupaten Gunungkidul terkendala dengan sistem pembelajaran jarak jauh dengan cara online atau sering di kenal dengan Daring.

Untuk saat ini penerapan di Kabupaten berjuluk Handayani ini belum efektif.

Di kutip dari Tagar, menurut Bahron Rasyid selaku kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, sampai saat ini belum semua sekolah bisa menerapkan. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) saja belum menyentuh 30 persen. Begitu juga dengan SMP yang baru 50 persen. "Jadi memang ada kendala untuk sistem daring," katanya di di Gunungkidul, Minggu 12 Juli 2020.

Berdasarkan data di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah sekolah di Kabupaten Gunungkidul ada 661 sekolah rinciannya status negeri 497 unit dan swasta 164 unit. Rinciannya unuk jumlah SD 466 (negeri 410 dan swasta 56), SMP 112 sekolah negeri 61 dan swasta 51), SMA 22 sekolah (negeri 11 dan swasta 11), SMK 48 sekolah (negeri 13 dan swasta 35), dan SLB 13 sekolah (negeri 2 dan swasta 11).

Berdasarkan data di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah sekolah di Kabupaten Gunungkidul ada 661 sekolah rinciannya status negeri 497 unit dan swasta 164 unit. Rinciannya unuk jumlah SD 466 (negeri 410 dan swasta 56), SMP 112 sekolah negeri 61 dan swasta 51), SMA 22 sekolah (negeri 11 dan swasta 11), SMK 48 sekolah (negeri 13 dan swasta 35), dan SLB 13 sekolah (negeri 2 dan swasta 11).

Menurut Bahron, salah satu kendala adalah jaringan internet yang belum menjangkau sekolah di pinggiran. Dan jika sekolah sudah ada jaringan internet, belum tentu siswa di rumah tersedia jaringan internet.

Persoalan lain yakni kepemilikan telepon seluler yang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar daring. "Jadi belajar online atau sekolah belajar dari rumah ini sebenarnya bukan pilihan Disdikpora. Namun ini karena mengedepankan protokol kesehatan," ungkapnya.

Dia mengatakan, dalam kondisi seperti saat ini, pihaknya juga tidak bisa mengimplementasikan kurikulum yang sama. Alasannya karena kondisi sekolah masing-masing berbeda." Ada yang bisa daring standar pembelajaran, namun ada juga yang tidak bisa," ujarnya.

Lantas bagaimana jika sekolah mulai menerapkan pembelajaran tatap muka? Pihaknya tidak melarang sekolah yang menghadirkan siswanya pada hari pertama tahun ajaran baru. Salah satu pergtimbangannaya karea siswa butuh pengenalan sekolah. "Namun tetap harus menerapkan protokol kesehatan," ujarnya.

Sumber : tagar.id / Ridwan Anshori

Komentar

Tampilkan