BLT Cair, Toko Pakaian Mulai Ramai


Sejak pemerintah mulai membagikan Bantuan Sosial Tunai (BST), sejumlah pasar dan juga toko-toko lainnya mulai ramai dikunjungi. Meski tak seramai tahun-tahun sebelumnya, namun transaksi di pasar tradisional dan juga toko lainnya sudah menunjukkan peningkatan.

Kios pakaian di Pasar Argosari Wonosari milik Tini (52) mengungkapkan, sejak pandemi COVID-19 melanda wilayah ini, hampir tak ada warga yang membeli pakaian yang ia jajakan. Seringkali, ia harus pulang ke rumah dengan tangan hampa karena tak ada yang membeli dagangan yang ia miliki.

Kiosnya berada di bagian dalam pasar, lorong-lorongnya pun tampak sunyi. Padahal, menurut Tin, menjelang Lebaran di tahun sebelumnya pembeli membanjir di sana. Tin menyebut biasanya pembeli sudah berdatangan sejak awal puasa, dan keramaian berpuncak pada seminggu jelang Lebaran.

"Baru 3 hari terakhir ini pembelinya agak ramai," kata warga Ringinsari ini, Rabu (20/5/2020)

Tin mengakui jika sejak ada bantuan dari pemerintah sebesar Rp 600.000 cair, perlahan-lahan pengunjung pasar mulai naik. Meski sudah ada pengunjung namun pendapatannya masih kalah jauh dibanding lebaran-lebaran sebelumnya. Bahkan dibanding dengan kondisi normal, masih jauh di bawahnya.

Jelang lebaran ini, Tin pun mengaku pendapatannya turun drastis hingga 90 persen dibanding tahun lalu. Kondisi ini semakin dipersulit dengan berkurangnya pasokan. Akibatnya banyak barang yang kosong tak selengkap lebaran-lebaran sebelumnya.

"Kayaknya sulit kalau bisa normal sebelum lebaran. Ya tentunya kami berharap pandemi COVID-19 ini cepat berlalu dan menghilang, jadi bisa beraktivitas seperti biasa lagi," kata Anjani.

Anjani (23), salah satu penjaga kios sepatu di pasar tersebut mengaku pasrah. Biasanya menjelang lebaran, masyarakat sudah mulai memadati pasar hingga toko pakaian. Tak lain dan tak bukan demi mencari baju ataupun sepatu baru untuk digunakan pada Hari Raya Idul Fitri nanti.

Namun, Lebaran tahun ini terasa begitu berbeda karena tak terlihat keramaian masyarakat yang membeli pakaian baru. Sepinya transaksi Lebaran kali ini juga diakuinya, terlebih suasana menjelang Lebaran kali ini lebih sepi dari tahun sebelumnya.

"Biasanya seminggu sebelum Lebaran sudah ramai pembeli, tapi kali ini malah sepi. Kemarin-kemarin sangat sepi, baru tiga hari ini atau sejak BST turun, pasar mulai ramai," tutur Anjani.

Seperti sektor lainnya, penjualan pakaian menjadi sepi lantaran pandemi COVID-19 yang merebak sejak hampir 3 bulan terakhir. Anjani bersama pedagang lain pun sempat menutup kios selama 2 minggu akibat pandemi ini.

Warga Wareng, Wonosari ini juga menyebut pendapatannya pada Lebaran kali ini menurun drastis. Jika tahun lalu ia bisa meraup keuntungan hingga Rp 5 juta, kali ini ia hanya mampu mendapat keuntungan maksimal Rp 1 juta.

"Sekarang bertahan saja alhamdulillah," ungkap Anjani.

Naning, salah seorang karyawan di toko pakaian kawasan selatan Pasar Argosari juga merasakan hal yang sama. Sejak tiga hari terakhir, kompleks kios pakaian dan aksesoris lainnya ini sudah mulai banyak dikunjungi. Namun kondisinya belum pulih sama seperti hari-hari normal lainnya.

"Alhamdulillah sudah mulai ada yang datang. Meski belum normal," tambahnya.


Sumber Kumparan